Potensi Komoditas Kakao
Menjelang akhir tahun, permintaan akan kakao meningkat. Produsen makanan terutama yang berasal dari Eropa dan Amerika mulai memenuhi stok kakao untuk bahan baku pembuatan cokelat. Tak heran kenaikan terjadi sebab produk olahan kakao yang sangat bervariasi itu memang menjadi incaran banyak pihak terutama di hari-hari besar atau jelang pergantian tahun. Lalu, bagaimana dengan komoditas agribisnis kakao lokal? Apakah komoditas tersebut juga laris manis, semanis produk olahannya, dan patut dilirik?
CocoaIndonesia mempunyai perkebunan kakao cukup luas dengan hasil panen yang mampu memberikan sumbangan devisa bagi negara serta turut aktif meningkatkan sektor agroindustri. Sejak era 1980-an, perkebunan kakao di tanah air berkembang pesat dengan luas lahan perkebunan kakao saat ini mencapai kurang lebih 1,1 juta ha dan jumlah produksi sekitar 730 ribu ton/tahun biji kakao.
Konsumsi
Konsumsi kakao pada dasarnya dapat dibedakan antara konsumsi biji kakao dan konsumsi cokelat, dimana konsumsi biji kakao dihitung berdasarkan kapasitas pengolahan atau grinding capacity, sementara konsumsi cokelat dihitung berdasarkan indeks per kapita. Dalam perdagangan kakao, yang menentukan harga kakao dunia adalah konsumsi biji kakao yang mempunyai relasi erat dengan produksi serta interaksi yang terjalin diantara keduanya. Harga kakao akan bergerak naik bila konsumsi biji kakao lebih besar dari produksinya dan begitu pula sebaliknya, harga kakao akan merosot turun jika konsumsi biji kakao lebih kecil dari produksi.
Perdagangan
Perdagangan kakao Indonesia di pasar dunia dinilai terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Dari data Kementerian Perindustrian, ekspor kakao olahan Indonesia meningkat dari Rp1,2 triliun pada Januari-Mei 2010 menjadi Rp2 triliun pada tahun 2011. Ekspor cokelat untuk periode yang sama juga turut naik dari Rp106 miliar pada tahun 2010 menjadi Rp139 miliar pada tahun 2011.
Sementara jika ditilik dari dalam negeri, agroindustri ini juga mengalami peningkatan. Dari penjelasan Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI), Sindra Wijaya, konsumsi biji kakao oleh industri dalam negeri meningkat menjadi 180.000 ton pada 2010 dari 125.000 ton pada 2009. Tahun ini, industri kakao dalam negeri diprediksi akan mampu menyerap 280.000 ton biji kakao. Dari peningkatan penyerapan industri domestik tersebut, diharapkan cocoa powder, cocoa butter dan cocoa cake Indonesia bisa mencapai 200.000 ton pada 2012.
Sambung samping
Bagi yang tertarik membudi daya kakao, cobalah teknik sambung samping. Teknik itu adalah teknik perbaikan tanaman tua tanpa harus membongar tanaman. Dari penjelasan laman Bertani, pada prinsipnya sambung samping menggabungkan atau menyambung batang bawah dengan klon yang dikehendaki.
Secara ekonomis teknik sambung samping cukup menguntungkan. Pelaksanaannya, tak perlu menunggu terlalu lama untuk panen. Prosedurnya seperti ini. Penyambungan sebaiknya dilakukan pada pagi hari dan awal musim hujan agar tanaman yang akan disambung masih dalam keadaan segar dan mudah terkelupas. Teknisnya, batang kakao dikerat pada ketinggian 40-60 cm dari permukaan tanah.
Setelah itu batang disayat dengan pisah bersih selebar 1 cm dengan panjang 2-4 cm. sayatan dibuka dengan hati-hati agar tak merusak cambium. Lalu entres dimasukkan dengan hati-hati ke dalam lubang sayatan sampai ke dasar sayatan dan sebelum plastik penutup dipasang, kulit batang tanaman pokok ditutup kembali sambil ditekan dengan ibu jari dan diikat.
Dengan teknik sambung samping, kakao lebih cepat dipanen yaitu ketika berumur 14-18 bulan dengan produksi mencapai 1.500 kg sampai 2.500 kg/ha/thn.
