Penangkaran Rusa Sebagai Aset Ekowisata
Kalau berkunjung ke kota Bogor, kurang lengkap rasanya bila tak mampir ke Istana Bogor. Istana yang tak hanya menyimpan nilai histori tinggi itu juga menyimpan panorama yang aduhai. Keberadaan ratusan rusa di sekitar halaman berumput hijau itupun menambah pesona keindahannya. Tak heran bila lokasi itu sering dikunjungi wisatawan yang terpincut untuk sekedar memberi makan hewan mamalia yang jinak tersebut.
Rusa, kini menjadi satwa liar unggulan dan banyak dikembangkan melalui penangkaran. Hewan ini mempunyai nilai ekonomi tinggi, baik potensi untuk wisata maupun sebagai satwa penghasil daging, kulit dan ranggah. Daging rusa konon dipercaya mempunyai kelebihan dibandingkan daging sapi yakni berserat halus dengan kandungan lemak dan kolesterol rendah.
Meski bernilai ekonomis namun eksploitasi rusa tak bisa dilakukan secara sembarangan sebab hewan bertanduk itu merupakan salah satu hewan yang dilindungi oleh negara. Rusa Timor (Rusa timorensis) dan rusa jenis lainnya seperti Rusa Sambar (Rusa unicolor), Rusa Bawean (Axis kuhlii) dan kijang atau muncak (Muntiacus muntjak) yang hidup di Indonesia sebagai satwa liar statusnya dilindungi berdasarkan PP No. 7/1999. Namun demikian, pemanfaatan rusa masih dapat dilakukan berdasarkan PP No. 8/1999. Salah satu bentuk pemanfaatannya adalah melalui penangkaran dan dapat dilakukan oleh perorangan, badan hukum, koperasi atau lembaga konservasi.
Penangkaran rusa di tanah air sudah banyak dilakukan tetapi masih belum optimal, baik produksi maupun reproduksinya. Kendala yang dihadapi penangkar di dalam negeri disebabkan antara lain oleh faktor pengadaan bibit/induk, teknik pemeliharaan dan masalah administrasinya. Jenis rusa yang paling banyak ditangkarkan atau dibudidayakan yakni jenis Rusa Timor atau biasa dikenal dengan istilah Rusa Jawa (90%) dan sebanyak 10% terdiri dari Rusa Sambar dan Rusa Totol (Axis axis).
Secara teknis, penangkaran rusa harus mengacu pada aspek bio-ekologi dan pelaksanaannya yang dapat dilakukan dalam beberapa model atau sistem. Berdasarkan hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan, yang dipublikasikan dalam brosur resminya, pemeliharaan dapat dilakukan dengan kandang terbuka sistem ranch (pedok ekstensif) untuk lahan yang cukup luas (1-5 ha/lebih), kandang terbukua mini ranch (pedok intensif) untuk lahan terbatas sampai dengan 1 ha, kandang tertutup siste, pembesaran (yard) dan kandang individu dengan kondisi ketersediaan lahan hanya untuk pembuatan kandang kecil.
Perlakuan dalam pemeliharaan sistem ranch (pedok ekstensif) mengarah pada pola ekstensifikasi atau pakan berasal dari padang penggembalaan, sistem mini ranch (pedok intensif) mengarah pada pola semi intensif atau pakan sebagian besar diberikan karena terbatasnya atau tidak tersedianya padang penggembalaan. Sedangkan kandang yard dan individu mengarah pada pola intensif atau semua pakan berasal dari pemberian (cut and carry).
Untuk urusan pakan, rusa bisa diberi makan berupa pakan hijauan dan konsentrat (pakan tumbuhan). Pakan hijauan yang diberikan rusa sama seperti pakan untuk ternak ruminansia pada umumnya yaitu rumput-rumputan (rumput alam/lapangan dan rumput tanaman), tanaman merambat (mekania dan daun ubi) dan daun-daunan (daun turi, gamal, jati dan lain-lain). Pakan konsentrat dapat terdiri jagung, singkong, ubi, dedak, pelet ternak, kulit pisang dan lainnya. Frekuensi pemberian pakan bisa dilakukan 2 – 3 kali sehari dan bila memungkinkan termasuk malam hari. Volumenya sekitar 2 kali dari 10 persen berat badannya.
Sama seperti membudi daya ternak lainnya, dalam usaha penangkaran rusa juga harus memperhatikan masalah kesehatan serta lingkungannya. Kesehatan rusa dapat dipengaruhi oleh kualitas dan kebersihan pakan, sanitasi kandang dan peralatan dan kondisi iklim. Diversifikasi pakan dan kecukupannya serta suplementasi vitamin/mineral juga turut mendukung kondisi kesehatan rusa dan karena itu wajib pula diperhatikan meski secara naluri rusa akan memakan jenis pakan yang mengandung obat-obatan alami.
Bagi yang tertarik menuai rejeki dari usaha penangkaran rusa, Anda harus memperhatikan beberapa hal berikut ini yag berkaitan dengan pengelolaan sarana serta prasarana
Penyediaan saran utama dan pendukung seperti pagar, peneduh, sumber pakan, sumber air, gudang, laboratorium, peralatan kadang, peralatan pengamatan, peralatan penandaan dan lainnya.
Pengembangan SDM, pendanaan dan kelembagaan seperti kapasitas, kapabilitas, kontinuitas dan lainnya.
Pengelolaan administrasi seperti perijinan, pencatatan, penandaan, sertifikasi, verifikasi dan lainnya.
Usaha penangkaran rusa ini layak dilakoni pelaku agribisnis yang ingin ekspansi dengan cara membidik peluang ekowisata. Potensi usaha ini cukup menjanjikan mengingat pariwisata bernuansa alam kini sedang menjadi tren tersendiri dan sangat diminati masyarakat luas.
